<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>www.fikriraja.west-sumatra.com</title>
	<link>http://fikriarea.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Tue, 06 Sep 2005 13:02:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>PENGALAMAN</title>
		<link>http://fikriarea.blogsome.com/2005/09/06/pengalaman/</link>
		<comments>http://fikriarea.blogsome.com/2005/09/06/pengalaman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2005 12:21:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>CERITA</category>
		<guid>http://fikriarea.blogsome.com/2005/09/06/pengalaman/</guid>
		<description><![CDATA[	HANTU YANG BERLARI DI TENGAH MALAM
“Kisah ini pernah dimuat di HALUAN MINGGU dengan judul: HANTU ITU LARI PONTANG-PANTING”
	Saya sangat percaya bahwa Allah SWT telah menciptakan alam ghaib dengan segala penghuninya. Tapi, tentang hantu yang suka bergentayangan? Sampai hari ini saya masih menyangsikan hal itu. Dan pengalaman saya dengan hantu yang satu ini hanya bisa membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>HANTU YANG BERLARI DI TENGAH MALAM</strong><br />
“Kisah ini pernah dimuat di HALUAN MINGGU dengan judul: HANTU ITU LARI PONTANG-PANTING”</p>
	<p>Saya sangat percaya bahwa Allah SWT telah menciptakan alam ghaib dengan segala penghuninya. Tapi, tentang hantu yang suka bergentayangan? Sampai hari ini saya masih menyangsikan hal itu. Dan pengalaman saya dengan hantu yang satu ini hanya bisa membuat saya geleng-geleng kepala.</p>
	<p><a id="more-10"></a>Peristiwa yang saya alami ini terjadi sebulan yang lalu. Saat itu saya sedang “begadang” karena ada tugas kuliah yang harus saya selesaikan malam itu juga. Saya perhatikan, jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. Saya yakin, semua keluarga saya tengah asyik bersama mimpi indahnya. Ingin rasanya saya lelap bersama mereka, tapi apa boleh buat, tugas kuliah telah memaksa saya untuk tidak memicingkan mata malam itu juga.</p>
	<p>Tiba-tiba saya mendengar suara aneh, seperti suara langkahan kaki. “Ah, mungkin kakak saya bangun untuk menyelenggarakan sholat tahajud” pikir saya dalam hati. Tidak beberapa lama, saya mendengar suara aneh lagi, kali ini bukan suara langkahan kaki, akan tetapi suara kresek-kresek yang tidak saya mengerti. Saya mulai curiga, suara itu makin jelas dan keras!</p>
	<p>Kosentrasi saya pecah, saya tinggalkan tugas kuliah yang sedang terbengkalai kemudian beranjak keluar kamar, memastikan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Aneh! Saya tidak melihat apa-apa, semua terlihat lengang dan sepi, tetapi, suara itu masih ada.</p>
	<p>Saya yakin, pasti ada yang tidak beres, entah kenapa bulu kuduk saya tiba-tiba merinding. Di luar gerimis turun, membuat suasana malam jadi mencekam. “Ah, tidak mungkin dirumah ini ada hantu,” gumam saya dalam hati.</p>
	<p>Walau perasaan takut mulai menikam saya, saya kuatkan juga hati ini untuk melangkahkan kaki kearah suara itu berasal. Bacaan ayat Qursi pun tak henti bergetar di bibir saya. Saya mulai menghidupkan lampu ruang tengah dan melangkah keluar.</p>
	<p>Memang aneh, di luar juga tidak ada apa-apa, tapi suara itu tetap ada. Saya ambil sepotong kayu ada di halaman rumah lalu bergerak mencari arah suara itu berasal. Jangan-jangan ada maling yang masuk ke rumah saya.</p>
	<p>Dengan mengendap-ngendap, saya berjalan menuju samping rumah dan… astaghfirullah! Saya kaget bukan main! Ada sosok serba hitam yang tengan mencoba mencongkel pintu di samping rumah saya.<br />
Tiba-tiba langkah saya terasa berat, ya Allah, saya semakin merinding, ingin rasanya saya berteriak tapi tak bisa. Heran, ini hantu apa bukan? Lalu apa urusannya mencongkel pintu rumah saya?</p>
	<p>Dengan sekuat tenaga, saya lempar kayu yang tadi saya pegang ke arah sosok tersebut dan… “prakk!” lemparan saya tepat mengenai sasaran. Sosok itu terjungkal, kaget dan langsung lari pontang-panting, melompati pagar samping dan kemudian hilang ditelan malam.</p>
	<p>Saya urungkan niat saya untuk mengejarnya karena larinya begitu kencang dan tak mungkin dikejar. Mengingat hal itu, saya hanya bisa geleng-geleng kepala.</p>
	<p>Yah, begitulah, sampai hari ini saya masih menyangsikan ada hantu yang suka berkeliaran, begitu juga dengan hantu yang suka bergentayangan, seperti yang banyak diceritakan orang-orang. Ya Allah, lindungilah saya dari godaan syetan yang terkutuk!</p>
	<p>Padang, Juli 2005</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikriarea.blogsome.com/2005/09/06/pengalaman/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Di Ujung Penderitaan</title>
		<link>http://fikriarea.blogsome.com/2005/09/06/di-ujung-penderitaan/</link>
		<comments>http://fikriarea.blogsome.com/2005/09/06/di-ujung-penderitaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2005 12:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>CERITA</category>
		<guid>http://fikriarea.blogsome.com/2005/09/06/di-ujung-penderitaan/</guid>
		<description><![CDATA[	CERPEN Fikri de Sasma
	Sangat hati-hati sekali, aku mulai membuka sampul surat itu. Aku kaget bukan main! Surat Hanin tampil dalam bentuk lain, undangan pernikahan dengan motif bunga yang melambangkan kehidupan. Dalam lembaran terpisah, ada kertas kecil yang bertuliskan:
	Putri…
Aku tunggu kehadiranmu
Walau hanya dalam mimpi dan anganku
	Hanin akan menikah? Aku jadi bimbang. Ingin sekali aku memenuhi undangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>CERPEN Fikri de Sasma</p>
	<p>Sangat hati-hati sekali, aku mulai membuka sampul surat itu. Aku kaget bukan main! Surat Hanin tampil dalam bentuk lain, undangan pernikahan dengan motif bunga yang melambangkan kehidupan. Dalam lembaran terpisah, ada kertas kecil yang bertuliskan:</p>
	<p>Putri…<br />
Aku tunggu kehadiranmu<br />
Walau hanya dalam mimpi dan anganku</p>
	<p><a id="more-9"></a>Hanin akan menikah? Aku jadi bimbang. Ingin sekali aku memenuhi undangan itu, melihatnya bahagia, tapi bagaimana caranya? Saat ini aku hanya bisa berbaring, menanti kehidupan baru, kehidupan yang pernah disampaikan Hanin padaku. Jika tidak aku penuhi undangan itu, aku merasa sangat berdosa. Percuma selama ini aku berjuang, jika rasa berdosa itu ikut menyelimuti tubuhku.</p>
	<p>* * *</p>
	<p>Ya, bagaimana aku tidak merasa berdosa, sejak kepergian ibu, tidak ada lagi yang mau menemani hari-hariku, kecuali Hanin. Hanin, wanita yang usianya sepuluh tahun di atasku, telah menjadi bagian dalam kehidupanku. Haninlah yang terus memberiku semangat hingga saat ini aku masih bisa bertahan, bertahan untuk terus hidup.</p>
	<p>Hanin tidak seperti Rina yang selalu menghindar bila berjumpa denganku. Padahal dulu, kami selalu pergi ke sekolah bersama, belajar bersama dan bermain bersama. Jika ada kesempatan, Rina selalu singgah ke rumahku, hanya untuk bercerita bahwa Robi hampir tiap malam meneleponnya, bahwa Robi telah resmi menjadi pacarnya dan bahwa Robi telah berani mecium pipinya</p>
	<p>Hanin juga tidak seperti Leo, yang selalu menghindar bila berjumpa denganku. Padahal dulu, Leo selalu mencuri perhatianku, selalu berusaha mendekatiku, dan akhirnya Leo menjadi kekasihku yang kemudian meninggalkanku. Hanin juga tidak seperti ayah, ayah selalu sibuk dengan urusan kantor dan wanita-wanita simpanannya.</p>
	<p>Aku mengenal Hanin setahun yang lalu, lewat sebuah saluran komunikasi yang di sebut “chatting”. Waktu itu kami saling berbagi cerita, pengalaman, dan keluh kesah.<br />
Perkenalan kami berlanjut lewat surat dan telepon jarak jauh (ternyata Hanin bermukim di sebuah kota yang jaraknya ratusan kilometer dari kotaku). Aku ceritakan semuanya tentang kehidupanku, tentang semua penderitaanku, dan Hanin seperti tidak pernah bosan membalas semua surat-suratku. Katanya, “penderitaan itu adalah perjuangan, hidup memang penuh perjuangan, hidup tanpa perjuangan adalah kematian”, begitulah isi dari suratnya yang pertama kali untukku. Kata-katanya itu masih tertanam kuat dalam hatiku, kata-kata itulah yang membuatku masih bisa bertahan, bertahan untuk terus hidup.<br />
Lewat telepon, aku tidak saja bercerita tentang penderitaanku yang menurutnya adalah perjuanganku, tapi juga tentang penderitaan ibuku. Aku ceritakan semuanya tentang bagaimana menderitanyan ibu menghadapi tingkah polah ayah. Ya, ayah sedikitpun tidak pernah memperdulikan kami, anak dan istrinya. Jika ibu menanyakan hal itu pada ayah, maka dapat dipastikan ayah akan marah, lalu membentak-bentak ibu, menamparnya, memukulnya, dan bahkan tak jarang, ayah menggunakan kakinya untuk menendang ibu. Untuk hal yang satu ini, aku betul-betul tidak bisa melupakannya. Suatu hari, ibu menemukan foto ayah yang sedang asyik bermesraan dengan seorang perempuan yang entah siapa namanya. Tentu saja ibu tidak tinggal diam. Ibu kemudian menemui ayah dan menanyakan siapa perempuan yang bersamanya di foto itu. Ayah kaget, lalu merebut foto tersebut, kemudian ayah menampar ibu, memukul ibu dan menendangnya.</p>
	<p>“Ini bukan urusanmu, awas! Jangan mengungkit masalah ini kalau tidak ingin kuceraikan!”</p>
	<p>Kuperhatikan waktu itu ibu tidak bisa berbuat apa-apa, ibu hanya menunduk sembari menahan butiran lembut yang tiba-tiba saja mengalir di pipinya. Sejak saat itulah, hubungan ibu dan ayah tidak harmonis lagi. </p>
	<p>Aku juga menceritakan bagaimana menderitanya ibu ketika mendengar ejekan tetangga sejak aku di vonis oleh dokter menderita penyakit yang sama sekali tak pernah kubayangkan. Akhirnya ibu meninggal. Tapi Hanin tetap saja mengatakan bahwa penderitaan itu adalah perjuangan.</p>
	<p>“Putri,penderitaan ibumu juga perjuangan,hidup memang penuh dengan perjuangan,mati dalam perjuangan adalah kehidupan”</p>
	<p>“Berarti ibuku telah menemukan kehidupannya?”</p>
	<p>“Insyaallah, berdo’alah”</p>
	<p>* * *</p>
	<p>Sejak penyakit itu bersarang ditubuhku, sejak itulah berbagai penderitaan muncul di dalam kehidupanku. Kenapa harus penyakit itu yang bersarang ditubuhku? Apa salahku? Aku bukan pelacur, aku tidak pernah menjual tubuhku, aku tidak pernah menjual pantatku, apalagi selangkanganku. Ketika kutanyakan hal ini kepada semua orang yang pernah kukenal, kecuali Hanin, jawaban mereka nyaris sama : “itu adalah suratan, itu adalah takdir”. Ah, persetan dengan suratan, persetan dengan takdir, ataukah Tuhan yang tidak adil padaku?</p>
	<p>Akhir-akhir ini pekerjaan rutinku hanya menulis dan membaca surat, hanya itu yang bisa aku lakukan selain makan dan tidur di ranjangku yang kadang-kadang membuat nafasku terasa sesak. Aku tidak lagi sekolah seperti dulu. Pihak sekolah telah lama mengeluarkan aku dari daftar siswa, menurut mereka, hal itu untuk menjaga nama baik sekolah. Padahal, banyak sekali guru-guru di sekolahku terlibat korupsi, termasuk kepala sekolah itu sendiri. Apakah hal itu tidak merusak nama baik sekolah? Tapi aku tetap bersyukur, lebih baik dikeluarkan dari pada tetap bersekolah. Penderitaanku akan bertambah bila tetap bersekolah. Di sekolah, aku dikucilkan, di cemooh, dan digunjingkan, bukankah itu akan menambah penderitaanku?</p>
	<p>Belakangan ini komunikasiku dengan Hanin hanya berlangsung lewat surat. Aku tidak bisa lagi memakai jasa internet, karena untuk menempuh warnet langgananku, aku harus berjalan sejauh satu kilometer. Aku tidak sanggup lagi berjalan sejauh itu. Kendaraan umum yang ada pun hanya ojek. Naik ojek? Itu sama saja membunuhku. Pernah suatu ketika, aku naik ojek sepulang dari warnet, tiba-tiba tubuhku gemetar dan kepalaku pusing, kemudian aku terjatuh dan dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Hal ini tentu saja membuatku semakin menderita.</p>
	<p>Aku tidak berani lagi memakai telepon rumah, ayah sangat marah jika mengetahui pulsa telepon rumah membengkak gara-gara sering kupakai untuk menghubungi Hanin. Untuk pergi ke wartel, kasusnya sama saja dengan pergi ke warnet.</p>
	<p>Kali ini surat Hanin tidak lagi tentang perjuangan, tapi tentang kebahagiaan. Kebahagiaan dari perjuangan. Katanya, ia sudah bertunangan dengan seorang lelaki yang sangat mencintainya, seperti ia mencintai lelaki itu. Oh ya, ternyata lelaki itu satu kuliah dengannya. Akhir-akhir ini ku ketahui bahwa Hanin adalah mahasiswa semester terakhir jurusan psikologi di salah satu perguruan tinggi negri yang ada di kotanya. Setelah di wisuda nanti ia akan menika dengan lelaki itu. Ia juga menanyakan kapan aku menikah, kalau mau seperti dia, aku harus tetap berjuang, kebahagiaan berasal dari perjuangan, begitulah isi dari suratnya. Setelah membaca surat itu, aku mulai merasa sedikit bahagia. Aku merasa memiliki harapan walau dokter menyatakan tidak.</p>
	<p>Semua surat-surat Hanin aku susun dan aku lipat dengan sangat hati-hati sekali. Semuanya aku simpan dalam sebuah lemari kecil yang terletak di sudut kamarku. Lemari kecil itu sengaja aku jadikan sebagai tempat khusus penyimpan surat-surat dari Hanin. Aku pasti membuka lemari kecil itu dan membaca kembali surat-surat kiriman dari Hanin jjka aku merasa kesepian. Karena surat-surat itulah sampai saat ini aku masih bisa menikmati<br />
penderitaan, perjuangan, yang katanya berbuah kebahagiaan.</p>
	<p>Tiga bulan setelah itu Hanin tidak lagi membalas surat-suratku. Apakah penyebabnya? Aku tidak tahu. Sudah bosankah Hanin membalasnya? Atau Hanin telah melupakan aku? Meninggalkan aku? Mungkin saja, mungkin saja ia telah larut dalam kebahagiaannya karena telah menikah dengan lelaki pilihannya dan kemudian tidak ingat lagi padaku. Mungkin saja begitu, banyak kutemui orang-orang seperti itu: di saat bahagia lupa akan segalanya. Kenapa tidak, toh Hanin hanya manusia biasa. </p>
	<p>Tapi itu tidak mungkin. Hanin tidak seburuk itu. Mungkin Hanin sedang dalam masalah, atau mungkin Hanin sedang sakit, sakit yang begitu parah, lebih parah dari penyakitku.<br />
Jika memang demikian, berarti ia tengah berjuang sepertiku. Jika memang, aku harus kembali menulis surat padanya, memberinya semangat untuk terus berjuang. Tapi bagaimana caranya? Penyakit itu semakin ganas menerkam tubuhku! Daya tahan tubuhku semakin hilang sehingga tidak bisa lagi menulis. Aku anya bisa berdo’a seperti yang pernah diajarkan Hanin padaku. Kali ini aku berdo’a untuk Hanin.</p>
	<p>Alhamdulillah, do’aku dikabulkan Tuhan. Mbok Inah—janda tua yang sebulan belakangan ini digaji ayah untuk merawatku—datang membawa sepucuk surat. Katanya untukku, aku yakin itu pasti dari Hanin. Siapa lagi kalau bukan Hanin, hanya ia yang selalu menulis surat padaku. Ternyata Hanin telah sembuh, Hanin telah bisa kembali menulis surat untukku.</p>
	<p>* * *</p>
	<p>Ya, dengan sangat hati-hati, aku buka sampul surat itu. Isi suratnya tampil dalam betuk lain. Sebuah undangan pernikahan dengan motif bunga yang melambangkan kehidupan, dan dalam lembaran terpisah, ada kertas kecil bertuliskan: </p>
	<p>Putri…<br />
Aku tunggu kehadiranmu<br />
Walau hanya dalam mimpi dan anganku</p>
	<p>Ingin sekali aku memenuhi undangan itu, melihatnya bahagia. Tapi bagaimana caranya? Ah, aku tidak boleh putus asa, kata Hanin, Tuhan amat murka pada hamba-Nya yang mudah putus asa. Aku harus berusaha, setidaknya memberi tahu Hanin, bahwa aku bahagia menerima undangannya dan ingin sekali menghadiri pesta pernikahannya, menyaksikan Hanin bersanding di pelaminan bersama lelaki yang amat mencintainya.<br />
Tanpa buang waktu lagi, segera kuraih gagang telepon, aku ingin menelepon Hanin. Aku akan katakan pada Hanin bahwa aku akan hadir di hari pernikahannya. Tapi tiba-tiba pandanganku berubah menjadi gelap. Sayup-sayup aku mendengar sebuah suara memanggil namaku, suara yang sangat familiar sekali di telingaku. Mula-mula suara ibu, lalu berganti dengan suara Hanin. Heran, aku merasa sedang berada di negri lain, negri yang begitu asing bagiku. Inikah yang namanya kehidupan itu? Kehidupan yang pernah dikatakan Hanin padaku? Pandanganku semakin gelap, nafasku tiba-tiba sesak dan kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.</p>
	<p>Padang, medio Juli 2003</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikriarea.blogsome.com/2005/09/06/di-ujung-penderitaan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Tentang Fikri de Sasma&#8221;</title>
		<link>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/selamat-datang-di-f-i-k-r-i-a-r-e-a/</link>
		<comments>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/selamat-datang-di-f-i-k-r-i-a-r-e-a/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 18:17:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>"TENTANG FIKRI"</category>
		<guid>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/selamat-datang-di-f-i-k-r-i-a-r-e-a/</guid>
		<description><![CDATA[	Selamat Datang di F I K R I  A R E A!
	Terima kasih tak berujung atas kunjungannya ke website ku ini,
Web yang sangat sederhana
se-sederhana orangnya&#8230; 
	 
	FIKRI DE SASMA, terlahir dengan nama Zulfikri Sasma di Padang pada tanggal 3 September. Menulis kreatif sejak duduk di bangku SLTA dan telah mempublikasikan karyanya di berbagai media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>Selamat Datang di F I K R I  A R E A!</strong></p>
	<p>Terima kasih tak berujung atas kunjungannya ke website ku ini,<br />
Web yang sangat sederhana<br />
se-sederhana orangnya&#8230; </p>
	<p><img src='/images/fikrigituloh3.jpg' alt='' /> </p>
	<p>FIKRI DE SASMA, terlahir dengan nama Zulfikri Sasma di Padang pada tanggal 3 September. Menulis kreatif sejak duduk di bangku SLTA dan telah mempublikasikan karyanya di berbagai media seperti: Haluan, Mimbar Minang, Padang Ekspres, Radar Bogor, Suara Kampus dan Media Sastra Salju Bogor. Pada tahun 2002, Puisinya yang berjudul: &#8220;Lelaki diantara Dua Jalur&#8221; terpilih sebagai Nominator dalam Lomba Cipta Puisi 100 Tahun Bung Hatta dan terangkum dalam Antologi Bersama: BUNG HATTA DALAM PUISI (kpsp 2003). </p>
	<p><a id="more-7"></a>Kumpulan Puisinya yang lain dan telah diterbitkan: &#8220;labellenoiseuse&#8221; (Teater Imam Bonjol, 2004). Karyanya yang berjudul &#8220;Batu Ajuang dan Batu Peti&#8221; meraih Juara III dalam Syaembara Menulis Legenda Minangkabau yang diadakan oleh PWI Sumbar kerjasama dengan Depdiknas. Tahun 2005, memperoleh beasiswa dari Yayasan Kelola Jakarta untuk mengikuti Lokakarya Penulisan Karya Tari dan Teater di Lembur Pancawati, Ciawi Bogor, Beritanya <a href="http://www.kelolaarts.or.id/info/berita_lpktt.php">Klik disini</a>. Aktiv sebagai pekerja Teater. Beberapa karya yang pernah dilakoninya antara lain: “Jaring-Jaring Merah” , Adaptasi Cerpen Helvy Tiana Rosa oleh Zelfeni Wimra, “Melukis Perjalanan”, karya/sutradara Zelfeni Wimra, “NDAKTADIR”, karya/sutradara Larsi de Isral (60 Besar FFii SCTV AWARD 2003), dll. Bersama Teater Imam Bonjol menyutradarai “TAMANNI” karya Zelfeni Wimra (FTA GKJ AWARD 2003) beritanya <a href="http://fikriarea.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Frelawan.net%2Fwmview.php%3FArtID%3D163&amp;i=0&amp;c=ece4fd7fc130287937e51e73ba571280284ebe66">Klik Di Sini</a> dan “PINANGAN” karya Anton P. Chekov (Panggung Hiburan Rakyat, Hotel Dymens Bukittinggi Februari 2005).  Baru-baru ini pentas bersama KSST Noktah dalam <a href="http://fikriarea.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fperempuanitubernamasabai.blogsome.com&amp;i=0&amp;c=2b538ae697f615a44651038a8ac7cc00007107e7">&#8220;Perempuan itu Bernama Sabai&#8221; </a> sebagai aktor (Hibah seni Yayasan Kelola, <a href="http://fikriarea.blogsome.com/go.php?u=http%3A%2F%2Fwww.kelolaarts.or.id%2Fprogram%2Farsip-hibahseni.php&amp;i=0&amp;c=bbaf52d116a98727c216286be7c5b63481b3d708">Klik disini</a>). Juga dikenal sebagai pembaca puisi dan mewakili Sumbar pada Pekan Seni Mahasiswa Tk. Nasional VII di Lampung serta terpilih sebagai 10 Pembaca Puisi Terbaik Tk. Nasional. Sekarang bermastautin di Jl. Binuang 25 RT 05 RW 02 kec. Pauh kota Padang Sumatra Barat. Telp. (0751) 74952. HP: 085263027515. email: zulfikrisasma@yahoo.com, ahaveros@yahoo.com.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/selamat-datang-di-f-i-k-r-i-a-r-e-a/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>SAJAK - SAJAK</title>
		<link>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/kepada-seseorang/</link>
		<comments>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/kepada-seseorang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 17:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>SAJAK - SAJAK</category>
		<guid>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/kepada-seseorang/</guid>
		<description><![CDATA[	PENANTIAN
:ika
	bertumpu pada kerinduan
aku menantimu pada sekuntum melati
menahan lelah pada warna pelangi
membayangkan wajah melayumu nan suci
	serupa patung,
aku asing diantara derai gerimis februari yang menggigil
termangu, lalu sepi dan sunyi
	seperti menahan waktu yang berlalu
barangkali harus kudaki merapi yang tinggi
kupetik setangkai adelweis
tanda abadinya cintaku padamu
	sayang,
biarkan perjalanan ini berlalu tanpa tanya
aku adalah senja yang merindukan malam
	 Padang, Februari 2003 
	KEPADA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><strong>PENANTIAN</strong><br />
<em>:ika</em></p>
	<p>bertumpu pada kerinduan<br />
aku menantimu pada sekuntum melati<br />
menahan lelah pada warna pelangi<br />
membayangkan wajah melayumu nan suci</p>
	<p>serupa patung,<br />
aku asing diantara derai gerimis februari yang menggigil<br />
termangu, lalu sepi dan sunyi</p>
	<p>seperti menahan waktu yang berlalu<br />
barangkali harus kudaki merapi yang tinggi<br />
kupetik setangkai adelweis<br />
tanda abadinya cintaku padamu</p>
	<p>sayang,<br />
biarkan perjalanan ini berlalu tanpa tanya<br />
aku adalah senja yang merindukan malam</p>
	<p><i> Padang, Februari 2003 </i></p>
	<p><a id="more-6"></a><strong>KEPADA SESEORANG</strong></p>
	<p>kuhapus namamu dalam hatiku<br />
ketika masa lalu muncul seperti angin yang menderuderu<br />
di pagi yang kelabu</p>
	<p>hujan baru saja reda<br />
ku ejaeja namamu pada dedaun basah<br />
bersama impian yang resah<br />
tapi katakata di mulutku terasa lelah<br />
sepi yang gelisah</p>
	<p>barangkali sepipun tahu:<br />
   betapa aku telah begitu karam di kedalaman hatimu</p>
	<p><em>Padang, April 2005</em></p>
	<p><strong><em>(sajak ini kutulis buat seseorang, yang sebenarnya aku cintai&#8230;walau kini harus kuhapus namanya&#8230;sungguh! tak kuat jika masih kusimpan namanya, apalagi kenangan bersamanya&#8230;) </em></strong></p>
	<p><strong>CINTA INI KEKASIH,</strong></p>
	<p>laksana biru pada laut<br />
dalam yang sulit diselam<br />
serupa bintang dilangit<br />
tinggi yang tak bisa diraih</p>
	<p>adakah yang lebih dalam dan tinggi dari ini semua?</p>
	<p><em>Padang, 2004</em></p>
	<p><strong>SAJAK KEPADA ADINDA</strong></p>
	<p>kenapa cinta begitu kejam adinda<br />
aku terombang-ambing dihempas ombak<br />
lalu badai yang tak pernah diam<br />
remukan hatiku yang sedang melukis namamu<br />
laksana tsunami lautan cinta selatan yang luluh-lantakan pantai asia<br />
aku terpaku beku<br />
diam, kejam, sungguh kejam adinda!</p>
	<p>kenapa tak tusukkan saja belati<br />
hingga perih di hati tak lagi nyeri<br />
atau penggal saja leher ini<br />
hingga tenggorokanku tak lagi bisa bersuara<br />
bersuara tentang cinta?</p>
	<p>adinda, cinta yang lama kusulam, hari ini hancur akibat waktu<br />
waktu yang setiap detik melukis jejak perjalanan kita</p>
	<p><em>Padang, 2004</em></p>
	<p><strong>TENTANG CINTA</strong></p>
	<p>1<br />
tentang cinta dan keabadian yang gila<br />
bukankah hati ini tak lagi punya ruang di hatimu<br />
lalu kenapa kau kirim senja atas nama cinta?</p>
	<p>2<br />
pun ketika matahari mulai terbirit-birit<br />
dan awan hitam menyemburkan hujan<br />
aku masih diam dalam<br />
menjemput senyum yang pulang</p>
	<p>3<br />
kemarin aku menanam cinta<br />
hari ini mekar di mana-mana<br />
mekar di mana-mana…</p>
	<p><em>Padang, 2004</em></p>
	<p><strong>ELEGI</strong></p>
	<p>meraba-raba dalam senyap<br />
aku mendapati patahan-patahan tulang<br />
bangkai-bangkai busuk yang menusuk<br />
anyir darah dan nanah<br />
kau terisak?</p>
	<p><em>Binuang, Januari 2003</em></p>
	<p><strong>GUGUR BUNGA</strong></p>
	<p>Gugur bunga dalam bait sajakku<br />
Aroma kamboja juga kenanga<br />
Tinggalkan duka dan nestapa</p>
	<p>Gugur bunga dalam bait sajakku<br />
Aroma mawar dan melati<br />
Kau tersenyum mengeja mati</p>
	<p>Gugur bunga dalam bait sajakku<br />
Selimuti ibu pertiwi</p>
	<p><em>Binuang, Februari 2003</em></p>
	<p><strong>KADO PERNIKAHAN</strong><br />
         : Buat Siska</p>
	<p>malam minggu, gerimis yang menggigil serta<br />
sebuah kado pernikahan dalam tas hitam<br />
aku bergerak melawan dingin yang menikam<br />
di tanganku, undangan warna biru<br />
undangan pesta pernikahan atas namamu  </p>
	<p>aku menatap langit sendu, siska<br />
mendung masih menggantung<br />
meneteskan gerimis teriris malam<br />
seperti hatiku yang juga teriris oleh waktu</p>
	<p>“waktu tengah mengepakkan sayapnya,<br />
   seperti kau yang kini bersanding dengannya”</p>
	<p>sayup aku dengar suara orgen tunggal<br />
cahaya remang dari kejauhan<br />
tas hitam berisi kado pernikahan<br />
berat menahan langkahku</p>
	<p>“di persinggahan waktu,<br />
  aku titip damai buat kalian…”</p>
	<p><em>Taruko, medio Februari 2003</em></p>
	<p><strong>HAMPA</strong></p>
	<p>Mengaca pada ombak<br />
Di riaknya ketakutan menjelma jadi buih<br />
Sedang kita masih bersemedi di sini</p>
	<p><em>Teater Imam Bonjol, Juli 2003</em></p>
	<p><strong>PEREMPUAN MALAM</strong></p>
	<p>seorang perempuan<br />
terperangah menikmati nasibnya<br />
di kolong jembatan<br />
di bawah sinar rembulan</p>
	<p>ini malam, tempat segalanya berpulang</p>
	<p><em>Tanah Abang, Juni 2003</em>
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/kepada-seseorang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>SCRIP</title>
		<link>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/trilogi-sajak-cinta/</link>
		<comments>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/trilogi-sajak-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 17:41:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>NASKAH DRAMA</category>
		<guid>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/trilogi-sajak-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[	
PARA JAHANAM!
Naskah: Zulfikri Sasma
Adaptasi Cerpen LAMPOR Karya Joni Ariadinata
	Para Pelaku:
JOHARI (suami)
TUMIYAH (istri)
ROS (anak perempuan)
UJANG (anak laki-laki)
	Bagi masyarakat yang bermukim di tepi kali comberan, yang hanya terdiri dari puluhan gubuk-gubuk reot, parade hingar bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari mulai menciumi bau busuk pada tepian kali comber yang dipenuhi bermacam-macam sampah. Sumpah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<ol>
<strong>PARA JAHANAM!<br />
Naskah: Zulfikri Sasma</strong><br />
Adaptasi Cerpen LAMPOR Karya Joni Ariadinata</p>
	<p>Para Pelaku:<br />
JOHARI (suami)<br />
TUMIYAH (istri)<br />
ROS (anak perempuan)<br />
UJANG (anak laki-laki)</p>
	<p>Bagi masyarakat yang bermukim di tepi kali comberan, yang hanya terdiri dari puluhan gubuk-gubuk reot, parade hingar bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari mulai menciumi bau busuk pada tepian kali comber yang dipenuhi bermacam-macam sampah. Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar, ternyata telah menjadi upacara bangun pagi yang mengasyikkan. Hingga, tak ada satupun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton.</p>
	<p><a id="more-5"></a>Inilah kisah tentang kaum comberan, kisah tentang orang-orang yang mengatakan bahwa hidup adalah untuk makan dan senang-senang!</p>
	<p>I<br />
Sebuah gubuk reot persis di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3x4 meter yang amat sederana, tampak seorang bapak paroh baya keluar dari kamar yang hanya dibatasi oleh triplek dan kain kumal. Pak Johari namanya, ia menguap lalu duduk di dipan kayu yang sama reotnya. Terasa sekali bahwa denyut kehidupan di rumah ini baru dimulai pada pukul 7 pagi.</p>
	<p>Pak Johari terlihat sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Ada banyak angka-angka yang tertulis di kertas itu. Ia terlihat berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang professor yang akan menyelesaikan penelitiannya. Kemudia ia batuk-batuk, lalu meludahkan dahak kental ke lantai dengan santai.</p>
	<p>JOHARI:<br />
Merah delima?<br />
(Johari kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)<br />
 Tum! Tumiyah! Tumiyah…!<br />
(Tak ada sahutan, Johari lalu mengambil sisa tembakau tadi malam dan melinting, membakar, alu menghirupnya dalam-dalam)<br />
Tumiyah! Tum! Hei! Apa kau lihat lembaran syair yang tadi malam kutarok di meja?<br />
Tum! Kau dengar aku Tum?<br />
(Tetap tak ada sahutan, Johari kemudian melanjutkan pekerjaannya) </p>
	<p>II<br />
Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. Johari tetap konsentrasi dengan pekerjaannya. Sepertinya sikap Tumiyah yang datang begitu tiba-tiba adalah hal biasa yang dinikmatinya tiap hari.</p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!</p>
	<p>JOHARI:<br />
Heh, apa kau lihat lembaran syairku yang kusimpan disini?<br />
TUMIYAH:<br />
Mana aku tahu syairmu, pagi ini aku sedang kesal. Lagi pula, apa tidak ada pekerjaan lain selain meramal syair-syair sialanmu itu?</p>
	<p>JOHARI:<br />
Dari pada kau mencaci maki terus-terusan, lebih baik kau bikinkan aku segelas kopi, biar otakku sedikit encer menghitung angka-angka ini</p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Hari ini tak ada kopi Pak Tua! Sebaiknya kau simpan saja impianmu itu!</p>
	<p>JOHARI:<br />
Alah! Kau tahu apa tentang merah delima?<br />
(Johari melanjutkan pekerjaannya dan Tumiyah menghilang menuju dapur)</p>
	<p>III<br />
Ketika Johari asyik dengan pekerjaannya, Ujang anaknya—yang masih berusia 10 tahun—datang,  pakaiannya basah kuyup. Dengan melenggang kangkung, ujang mendekati bapaknya dan duduk di dipan. Matanya sibuk memperhatikan bapaknya yang sibuk menghitung angka-angka.  </p>
	<p>JOHARI:<br />
He, anak jadah! Kenapa bajumu basah? Heh, aaa, aku tahu, kau pasti ngintip janda kembang itu mandi ya? Kecil-kecil sudah kurang ajar! Ayo pergi sana! Ganti bajumu! Mengganggu konsentrasiku saja!<br />
(Dengan cuek Ujang beranjak menuju dapur, Johari masih melototkan matanya pada Ujang. Setelah Ujang menghilang, Johari kembali dengan pekerjaannya. Tapi, itupun hanya sebentar, karena tak lama setelah itu, Ujang berlari keluar dari dapur diiringi terikan istrinya yang memekakkan telinga.)</p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Anak sialan! Hei, mau kemana kau? Heh, jangan lari! Kembalikan dulu uangku yang 3000 perak! Pasti kau yang mencurinya! Hei, jangan lari! Keparat, sampai kapan kau mempermainakan orang tua, heh? Awas kau! Awas!<br />
(Tumiyah terlambat, lari Ujang begitu cepat, begitu keluar dari dapur, ia hanya mendapati suaminya yang tengah asyik dengan angka-angkanya, kontan saja, suaminya pun jadi sasaran kemarahannya)</p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Pak tua, apa kau pikir akan makan dengan berada di rumah terus, heh? Ke pasar kek, kemana saja. Aku sudah tidak punya minyak tanah pak tua!</p>
	<p>JOHARI:<br />
Kau ikhlaskan saja 3000 perak itu, untuk beli minyak tanah ngutang dulu di warung si Leman, aku sedang nunggu si Kontan untuk urusan penting.</p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Kontan gundul bonyok! Apa sepenting itu Kontan hingga kau harus menunggu? Dengar pak tua, utang sama si Leman sudah tiga puluh ribu perak, yang penting sekarang minyak tanah, bukan Kontan</p>
	<p>JOHARI:<br />
Perempuan goblok, kau tahu apa tentang merah delima? Heh, kalau jadi…hem. Kita akan lekas kaya! Aku akan bangun rumah dengan lampu yang lebih besar dari yang ada di Griya Arta sana. Biar mereka nyahok! Kemudian, aku akan…</p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Alah sudah! Dasar pembual!</p>
	<p>(Tumiyah memotong ucapan suaminya, bertengkar dengan lelaki ini, tak akan menghasilkan apa-apa. Otaknya sudah budek. Lalu menyapu gubuknya yang seperti kapal pecah. Tengah asyik menyapu, ia teringat bahwa hari ini adalah hari rabu. Tumiyah tersenyum, emosinya sedikit reda. Ia berhenti menyapu dan mendekati suaminya yang sedang mabuk membayangkan rumah sehebat Griya Arta) </p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Apa kau sudah mendapatkan inpo alam pak tua?</p>
	<p>JOHARI:<br />
Heeeeh perempuan, kamu bilang enggak punya duit!</p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Weeaalahh, tololnya, kalau kau menang kan aku juga yang senang, lagian, apa kau punya duit? Beli minyak tanah saja tidak becus!</p>
	<p>JOHARI:<br />
Ya sudah, aku cuman mancing-mancing kalau kamu diam-diam masih menyembunyikan uang. Hem, kelihatannya wangsit kali ini memang benar. Coba kau bayangkan, dalam mimpi itu aku dikelilingi tiga ekor kalkun. Kalkun Arab. Setelah dikutak-kutik, ternyata kena pada tujuh delapan dengan ekor dua tujuh. Pokoknya untuk yang satu ini aku harus bisa. Aku akan mengandalkan si Kontan, setidaknya untuk dua kupon</p>
	<p>TUMIYAH:<br />
Terserah, mau Kontan mau setan, aku sudah tak mau tahu, yang penting sekarang minyak! Aku tak mau kelaparan karena Kontan.<br />
(Tumiyah buru-buru bangkit, menyelesaikan pekerjaanya menyapu rumah, agak lama. Ia menoleh ke belakang, ke arah suaminya yang masih bermimpi dengan rumah seindah Griya Arta, hati-hati, ia kemudian menyelinap keluar, bukan ke warung Leman, tetapi ke Pasar untuk membeli dua lembar kupon)</p>
	<p>IV<br />
Hingga pukul 12.00 siang, Kontan belum jua muncul. Tiba-tiba Ros—anak gadisnya—muncul, Ros datang dengan membawa nasi bungkus dan memakannya sendiri dengan enak. Pak Johari jadi iri dan lapar. Pak Johari jadi ingat bahwa perutnya belum di isi sejak pagi tadi, sedang Tumiyah istrinya ngelayap entah kemana.  </p>
	<p>JOHARI:<br />
Tentu kau masih menyimpan uang, belikan ayah sebungkus lagi, pake tahu</p>
	<p>ROS:<br />
Nggak! Nggak mau. Uangku hanya tingga 2000 perak buat beli viva, bedakku habis<br />
(Ros tiba-tiba menjauh, menjaga nasinya agar tidak terjangkau oleh ayahnya)</p>
	<p>JOHARI:<br />
Heh, bukankah itu uangku? Uang dari si Ujang kan?</p>
	<p>ROS:<br />
Enak saja, bang Nasrul yang kasih aku lima ribu</p>
	<p>JOHARI:<br />
Nasrul? Laki-laki brengsek itu? O ya, kalau begitu tolong kamu pinjamkan sama Nasrul. Nasrul senang kamu? Bagus. Tidak apa-apa</p>
	<p>ROS:<br />
Nggak! Pergi saja sendiri<br />
(Ros kemudian lari ke belakang, tentu saja Johari marah sambil berteriak)</p>
	<p>JOHARI:<br />
Keparat! Awas kamu Ros, aku doakan kau nyahok dengan Nasrul!<br />
(Pak Johari pun pergi keluar rumah)</p>
	<p>V<br />
Malam telah larut, lampu minyak telah lama dinyalakan.  Kecuali Pak Johari yang memang belum pulang, semua penghuni di rumah itu telah lama lelap bersama mimpi-mimpi indahnya. Ya, tak ada yang perlu dikerjakan selain tidur. Hanya dengan tidurlah keluarga semacam itu bisa tentram dan sunyi.</p>
	<p>Pukul sebelas malam, pak Johari baru pulang.  Tubuhnya sedikit oleng pertanda sedang mabuk berat. Mulutnya menceracau-ceracau tak karuan. Memanggil-manggil Tumiyah Istrinya.</p>
	<p>JOHARI:<br />
Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik. Jika saja tidak, mungkin malam ini kita sudah bercinta di Griya Arta, eh, hik, bercinta? O ya, malam ini kita bercinta lagi ya Tum, hik, itulah obat bagi segalanya, hik. Tenanglah Tum, besok akan kupikirkan lagi kabar tentang merah delima, hik. Tum, hik, Tum..  </p>
	<p>(Mulut Johari terus menceracau, dalam benaknya sudah terbayang nikmatnya bercinta dengan Istrinya. Johari kemudian bergerak menuju salah satu kamar dalam gubuknya, tapi bukan ke kamar dimana Tumiyah Istrinya telah lama terlelap. Barangkali gara-gara terlalu mabuk sehingga Johari lupa bahwa ia telah masuk ke kamar Ros anak gadisnya. Dan…) </p>
	<p>*    *    *</p>
	<p>SELESAI</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/trilogi-sajak-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Photonya Fikri Gitu loh!</title>
		<link>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/fikri-gitu-loh/</link>
		<comments>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/fikri-gitu-loh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2005 17:30:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>"TENTANG FIKRI"</category>
		<guid>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/fikri-gitu-loh/</guid>
		<description><![CDATA[	
cool banget ga seh gaya gw?
	
ini waktu aku masih jadi model, he he he he 
	
Melukis Perjalanan Karya/Sutradara Zelfeni Wimra
Pentas September 2002 di ISI Yogyakarta

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src='/images/fikrigituloh4.jpg' alt='' /><br />
cool banget ga seh gaya gw?</p>
	<p><a id="more-3"></a><img src='/images/Fotoku.jpg' alt='' /><br />
ini waktu aku masih jadi model, he he he he </p>
	<p><img src='/images/fotoden.jpg' alt='' /><br />
Melukis Perjalanan Karya/Sutradara Zelfeni Wimra<br />
Pentas September 2002 di ISI Yogyakarta
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fikriarea.blogsome.com/2005/08/19/fikri-gitu-loh/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
