SAJAK - SAJAK
PENANTIAN
:ika
bertumpu pada kerinduan
aku menantimu pada sekuntum melati
menahan lelah pada warna pelangi
membayangkan wajah melayumu nan suci
serupa patung,
aku asing diantara derai gerimis februari yang menggigil
termangu, lalu sepi dan sunyi
seperti menahan waktu yang berlalu
barangkali harus kudaki merapi yang tinggi
kupetik setangkai adelweis
tanda abadinya cintaku padamu
sayang,
biarkan perjalanan ini berlalu tanpa tanya
aku adalah senja yang merindukan malam
Padang, Februari 2003
kuhapus namamu dalam hatiku
ketika masa lalu muncul seperti angin yang menderuderu
di pagi yang kelabu
hujan baru saja reda
ku ejaeja namamu pada dedaun basah
bersama impian yang resah
tapi katakata di mulutku terasa lelah
sepi yang gelisah
barangkali sepipun tahu:
betapa aku telah begitu karam di kedalaman hatimu
Padang, April 2005
(sajak ini kutulis buat seseorang, yang sebenarnya aku cintai…walau kini harus kuhapus namanya…sungguh! tak kuat jika masih kusimpan namanya, apalagi kenangan bersamanya…)
CINTA INI KEKASIH,
laksana biru pada laut
dalam yang sulit diselam
serupa bintang dilangit
tinggi yang tak bisa diraih
adakah yang lebih dalam dan tinggi dari ini semua?
Padang, 2004
SAJAK KEPADA ADINDA
kenapa cinta begitu kejam adinda
aku terombang-ambing dihempas ombak
lalu badai yang tak pernah diam
remukan hatiku yang sedang melukis namamu
laksana tsunami lautan cinta selatan yang luluh-lantakan pantai asia
aku terpaku beku
diam, kejam, sungguh kejam adinda!
kenapa tak tusukkan saja belati
hingga perih di hati tak lagi nyeri
atau penggal saja leher ini
hingga tenggorokanku tak lagi bisa bersuara
bersuara tentang cinta?
adinda, cinta yang lama kusulam, hari ini hancur akibat waktu
waktu yang setiap detik melukis jejak perjalanan kita
Padang, 2004
TENTANG CINTA
1
tentang cinta dan keabadian yang gila
bukankah hati ini tak lagi punya ruang di hatimu
lalu kenapa kau kirim senja atas nama cinta?
2
pun ketika matahari mulai terbirit-birit
dan awan hitam menyemburkan hujan
aku masih diam dalam
menjemput senyum yang pulang
3
kemarin aku menanam cinta
hari ini mekar di mana-mana
mekar di mana-mana…
Padang, 2004
ELEGI
meraba-raba dalam senyap
aku mendapati patahan-patahan tulang
bangkai-bangkai busuk yang menusuk
anyir darah dan nanah
kau terisak?
Binuang, Januari 2003
GUGUR BUNGA
Gugur bunga dalam bait sajakku
Aroma kamboja juga kenanga
Tinggalkan duka dan nestapa
Gugur bunga dalam bait sajakku
Aroma mawar dan melati
Kau tersenyum mengeja mati
Gugur bunga dalam bait sajakku
Selimuti ibu pertiwi
Binuang, Februari 2003
KADO PERNIKAHAN
: Buat Siska
malam minggu, gerimis yang menggigil serta
sebuah kado pernikahan dalam tas hitam
aku bergerak melawan dingin yang menikam
di tanganku, undangan warna biru
undangan pesta pernikahan atas namamu
aku menatap langit sendu, siska
mendung masih menggantung
meneteskan gerimis teriris malam
seperti hatiku yang juga teriris oleh waktu
“waktu tengah mengepakkan sayapnya,
seperti kau yang kini bersanding dengannya”
sayup aku dengar suara orgen tunggal
cahaya remang dari kejauhan
tas hitam berisi kado pernikahan
berat menahan langkahku
“di persinggahan waktu,
aku titip damai buat kalian…”
Taruko, medio Februari 2003
HAMPA
Mengaca pada ombak
Di riaknya ketakutan menjelma jadi buih
Sedang kita masih bersemedi di sini
Teater Imam Bonjol, Juli 2003
PEREMPUAN MALAM
seorang perempuan
terperangah menikmati nasibnya
di kolong jembatan
di bawah sinar rembulan
ini malam, tempat segalanya berpulang
Tanah Abang, Juni 2003

Saya suka dengan laman web ini,di sini kita boleh mengasah bakat2 baru dalam bidang seni tidak kiralah mengarang puisi,sajak,pantun dan sebagainya.Selain,mengasah bakat2 baru,kita juga dapat melihat perbezaan puisi yang telah dikirimkan dalam laman web ini.Sekian terima kasih.
Comment by Azira Abdul Halim — February 3, 2006 @ 9:18 am